Minggu, 31 Mei 2009

sosiologi sastra

Konflik Sosial Tokoh Tamin dalam Novel “ Pulang “ Karya Toha Mokhtar

Heni Puspitasari

Abstak

Novel “ Pulang “ ini menggambarkan bahwa tak selamanya kehidupan pun berjalan lancar dan mulus, apalagi ketika seseorang sudah berkeluarga, segala permasalahan dan cobaan datang silih berganti, menguji kekuatan suatu rumah tangga. Jaminan ekonomi yang kurang tidak selamanya membuat hati mereka sedih. Dalam penelitian ini mengangkat permasalahan pokok yaitu bagaimana bentuk konflik sosial tokoh Tamin dalam novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar ?. Dari rumusan tersebut, maka dapat diperoleh tujuannya yaitu mendeskripsikan bentuk konflik sosial tokoh Tamin dalam novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar. Manfaat penelitian secara teoritis yaitu bagi pengembang teori sastra, khususnya teori sosiologi sastra dan teori konflik sosial yang terdapat dalam novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar. Manfaat secara praktis yaitu bagi mahasiswa sastra untuk kegiatan analisis terhadap karya sastra dari segi pemahaman konflik sosial yang dialami oleh tokoh yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis yang menunjukkan konflik sosial yang terjadi pada tokoh.

Kata kunci : - Novel “Pulang”
- Tokoh Tamin
- Bentuk Konflik Sosial
- Rumusan Masalah
- Manfaat Penelitian
- Metode Kualitatif

A. PENDAHULUAN
Sastra muncul karena dilatarbelakangi bahwa sastra muncul dari masyarakat dan merupakan cermin dari kehidupan masyarakat dapat dilihat dari nilai-nilai atau norma-norma yang ada seperti norma agama, susila, atau sosial.
Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan mensiratkan aksi-aksi balasan (Wellek dan Waren, 1990:289). Konflik sosial adalah segala sesuatu yang bertentangan, masyarakat yang suka memperhatikan kepentingan umum dengan kesosialan sifat-sifat masyarakat. Dengan demikian, konflik dapat diasumsikan sebagai sesuatu yang negatif dan tidak menyenangkan sehingga hal ini cenderung dihindari oleh seseorang. Konflik- konflik yang bisa diangkat dalam suatu karya sastra dapat berupa konflik yang terjadi antara manusia dan manusia, manusia denan alam sekitarnya, (dapat disebut konflik fisik, eksternal atau jasmaniah). Konflik antara suatu ide dengan ide lain disebut konflik internal atau batiniah.
Konflik sosial dalam novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar, wujud dari penolakan norma-norma sosial dan pemikiran yang berlaku pada masyarakat dan keluarga. Norma sosial yang seharusnya menjadi rambu dapat dijadikan sebuah perubahan yang bernilai positif. Selain itu konflik sosial yang terjadi merupakan gambaran dari pertentangan tentang anggapan masyarakat bahwa orang (pria) yang yang dibawa Jepang Heiho dan Romusya di negeri sebrang tidak bisa pulang dengan selamat, tetapi tidak demikian dengan Tamin, dia bisa kembali pulang dengan selamat.
Luxemburg 1989:23 mengungkapkan bahwa karya sastra dapat dipandang sebagai gejala sosial. Sebagai bukti bahwa sastra muncul sebagai gejala sosial akibat dari norma sosial yang ada dimasyarakat yaitu novel yang berjudul “ Pulang “ karya Toha Mokhtar. Akibat dari norma sosial yang dipertentangkan akan muncul konflik sosial yang terjadi pada tokoh Tamin untuk diteliti karena adanya pertentangan norma sosial yang dilatarbelakangi kelas-kelas sosial yang terkait dengan ekonomi dan masalah sosial yang cenderung antara satu orang ke orang lain. Konflik sosial yang nampak pada tokoh Tamin, ketika ia mengembara sebagai Heiho yang kewajibannya hanya berkelahi dan menembak, mengembara di tengah hutan belantara, sedangkan norma yang berlaku dimasyarakat apabila seseorang yang mengembara atau bertugas sebagai Heiho, ia hanya tidak sekedar berkelahi dan menembak, mengembara di tengah hutan belantara, tapi juga mencari seorang pendamping atau istri.
Tokoh Tamin yang mengalami konflik sosial merupakan gambaran pria dari kelompok sosial bawah yang mampu mendongkrak norma sosial tentang kewajiban seorang anak kepada orang tuanya. Jarang dijumpai dalam kelompok sosial ini mengenai kewajiban seorang anak kepada orang tuanya.
Novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar dijadikan sebagai objek penelitian, novel ini menarik untuk diteliti karena menggambarkan fenomena sosial yang terjadi sampai sekarang, misalnya tergambar dalam novel ini yaitu masalah kewajiban seorang anak terhadap orang tuanya bahwa tidak selamanya anak yang merantau sebagai Heiho akan mati dalam medan perang, tetapi justru Tamin yang merantau sebagai Heiho bisa pulang kembali ke kampung dengan selamat, hal itu dalam kenyataan orang yang dibawa jepang Heiho dan Romusya di negeri sebrang kebanyakan tidak bisa pulang dengan selamat. Dalam novel ini dibuktikan dalam kutipan sebagai berikut.
“Akhirnya engkau kembali jua, Tamin. Tuhan mengabulkan doaku siang dan malam. Tak ada yang lebih besar kuharapkan dalam hidup ini, kecuali kedatanganmu. Apa gerangan yang aku mimpikan semalaman?” ( Toha,Mokhtar. 1975:9)
Dari kutipan tersebut Tamin bisa kembali pulang dengan selamat, karena do’a dari orang tuanya, dan menggambarkan bahwa tidak selamanya orang yang dibawa Jepang Heiho dan Romusya di negeri sebrang tidak bisa pulang dengan selamat
Novel ini menggambarkan bahwa tak selamanya kehidupan pun berjalan lancar dan mulus, apalagi ketika seseorang sudah berkeluarga, segala permasalahan dan cobaan datang silih berganti, menguji kekuatan suatu rumah tangga. Jaminan ekomi yang kurang tidak selamanya membuat hati mereka sedih.
Toha Mokhtar adalah seorang yang mempunyai kesempatan untuk mengembangkan bakatnya yaitu menulis. Alasan memilih Toha Mokhtar karena melihat tahun terbitan novel ini tidak banyak sastrawan yang berasal dari dunia yang berbeda. Kebanyakan seorang sastrawan adalah orang yang sudah berkecimpung lama dalam dunia sastra.
Dalam penelitian ini mengangkat permasalahan pokok yaitu bagaimana bentuk konflik sosial tokoh Tamin dalam novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar ?. Dari rumusan tersebut, maka dapat diperoleh tujuannya yaitu mendeskripsikan bentuk konflik sosial tokoh Tamin dalam novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar. Dan dari rumusan masalah tersebut maka akan diperoleh manfaat sebagai berikut: Manfaat penelitian secara teoritis yaitu bagi pengembang teori sastra, khususnya teori sosiologi sastra dan teori konflik sosial yang terdapat dalam novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar. Manfaat secara praktis yaitu bagi mahasiswa sastra untuk kegiatan analisis terhadap karya sastra dari segi pemahaman konflik sosial yang dialami oleh tokoh yang terdapat dalam sebuah karya sastra.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena menghasilkan deskripsi novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar dan tidak menggunakan sistem perhitungan atau tidak membutuhkan angka sebagai data. Metode kualitatif sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati yang menunjukkan konflik sosial yang terjadi pada tokoh Tamin.
Penelitian ini mempunyai sumber data utama yaitu novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar, tahun penerbit 1975, tebal buku 71 halaman, selain itu sumber data yang lain buku sosilogi sastra, perubahan sosial dan pembangunan, serta buku teori sosiologi klasik dan modern, buku ilmu sosial dasar. Jenis data berupa kalimat dan paragraf yang menunjukkan konflik sosial yang terjadi pada tokoh Tamin sebagai sumber penelitian yang sesuai dengan rumusan masalah. Penelitian yang berjudul “Konflik Sosial Tokoh Tamin dalam Novel “ Pulang “ Karya Toha Mokhtar “. menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut: membaca berulang-ulang novel “ Pulang “ Karya Toha Mokhtar, menginvertarisasi data, mengklasifikasikan data yaitu data yang berupa konflik sosial tokoh Tamin.
Dalam penelitian ini yang berjudul “Konflik Sosial Tokoh Tamin dalam Novel “ Pulang “ Karya Toha Mokhtar “ menggunakan teknik analisis data sebagai berikut: menganalisis data sesuai dengan rumusan masalah dan landasan teori yang digunakan, menyimpulkan analisis data, mendeskripsikan hasil analisis data berupa laporan.
Hal yang terpenting dalam karya sastra adalah konsep cermin dalam kaitan ini, sastra dianggap tiruan masyarakat. Kendati demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi atau khayalan dari kenyataan. Dari hal tersebut, sastra tidak semata-mata menyodorkan sastra mentah, sastra bukanlah sekedar tiruan dari kenyataan, melainkan kenyataan yang telah ditafsirkan. Kenyataan tersebut bukan jiplakan yang kasar, melainkan sebuah refleksi yang halus dan estetis. Karya sastra dikontruksikan sebagai imajinatif, tetapi kerangka-kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami di luar kerangka emplisitnya (Diyas, 2003:10-11).
Teori sosiologi sastra merupakan teori yang digunakan untuk menjelaskan kenyataan sosial yang dipindahkan atau disalin pengarang dalam sebuah karya sastra, sehingga teori-teori sosiologi yang digunakan untuk menganalisis sebuah cipta sastra tidak dapat mengobalkan eksistensi pengarang, dunia, pengalaman batinnya, serta budaya tempat karya itu dilahirkan.
(Damono, 1979: 3-4) mengemukakan bahwa telaah sosiologi terhadap sastra mencakup tiga hal. Pertama konteks sosial pengarang, terdapat hubungannya dengan posisi sastrawan dalam masyarakat pembaca. Kedua, sastra sebagai cerminan keadaan masyarakat, menggambarkan anggapan bahwa sastra sebagai cerminan keadaan masyarakat. Ketiga, fungsi sosial sastra yaitu penilaian sastra pendidikan bagi masyarakat pembaca sastra.
Pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra: landasannya adalah gagasan bahwa sastra merupakan cermin zamannya. Pandangan ini beranggapan bahwa sastra cermin langsung dari pelbagai segi struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain. Dalam hal ini tugas ahli sosiologi sastra adalah menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayalan dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal-usulnya. (Damono, 1979: 10)
Konflik adalah mekanisme yang mendorong adanya suatu perubahan. Konflik berpengaruh efektif terhadap seluruh tingkat realitas sosial. Hubungan antara konflik dalam perubahan cenderung menjadi satu proses yang berlangsung dengan sendirinya dan terus menerus, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa konflik dapat menimbulkan perubahan, tetapi sebaliknya dari perubahan dapat pula mendatangkan konflik baru yang dapat mengakibatkan terjadinya konflik selanjutnya (Wahyu, 2005:20).
Pemunculan konflik dalam karya sastra khususnya prosa fiksi menghasilkan sesuatu yang menarik untuk dinikmati dan membawa cerita lebih hidup. Konflik terjadi karena adanya ketidakseimbangan atau anggapan kearah itu, timbulnya konflik dibagi menjadi dua yaitu konflik yang tak berwujud kekerasan dan berwujud kekerasan seperti peperangan. Karena pada hakekatnya manusia dalam menjalani hidup pasti mengalami konflik diri sendiri atau konflik sosial antar masyarakat lain.
Bentuk- bentuk konflik yang menimbulkan ketegangan (Faturahman dalam Darmansyah, 1986: 244). Konflik dapat terjadi dimana-mana, baik antara dua orang, dua kelompok atau antara bangsa-bangsa atau lebih. Konflik tersebut terjadi akibat perbedaan kepentingan dalam berbagai hal. Namun yang perlu diperhatikan bahwa konflik itu sendiri memiliki kadar intensitas atau kedalaman yang menunjukkan kemampuannya untuk menimbulkan ketegangan bagi individu atau kelompok. Konflik sosial merupakan wilayah makro yang artinya mencakup konflik antar negara atau terkait dengan nasional atau internasional, sedangkan konflik sosial antara individu dengan kelompok merupakan wilayah mikro.
Bentuk konflik yang dapat menimbulkan ketegangan antara lain konflik diadik atau mikro dan konflik kolektif atau makro. Konflik dapat menimbulkan ketegangan yaitu konflik laten yaitu konflik yang belum diwujudkan secara terang-terangan karena ada pertentangan yang masih bisa dirasionalkan konflik manifest yaitu konflik yang ditujukan secara langsung atau terbuka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konflik yang dapat menimbulkan ketegangan adalah konflik yang telah menyangkut masalah-masalah perasaan dan fungsi kerohaniaan lain dari individu maupun kelompok. Hal-hal umum yang sering menjadi masalah peka dalam interaksi sosial dan sering menimbulkan ketegangan antara lain masalah-masalah pemenuhan kebutuhan (ekonomi), kehormatan, ideologi dan kekuasaan.
Konflik diadik (Faturahman dalam Darmansyah, 1986: 244) adalah konflik antar individu dan antar kolektivitas. Umumnya konflik antar kelompok ini lebih banyak ditimbulkan oleh masalah-masalah yang menyangkut ekonomi dalam rangka memenuhi kebutuhan dan masalah-masalah yang menyangkut kehormatan dan eksistensi individu dan kelompok.
Konflik kolektif (Faturahman dalam Darmansyah, 1986: 244) menyangkut hubungan antar negara dalam hubungan internasional, karena secara toritis konflik yang paling sederhana diantara kolektivitas adalah hubungan internasinal, dimana yang terlibat adalah nation states yang berdaulat. Konflik antar negara bangsa ini umumnya lebih cepat menimbulkan ketegangan karena dapat menimbulkan emosi massa atau politik yang dilibatkan.
Konflik dan kekompakan (Sosiologi George Simmel dalam Johnson, 1986: 269). Konflik sangat erat terjalin dengan pelbagai proses yang mempersatukan dalam kehidupan sosial, dan bukan hanya sekedar lawan dari persatuan. Konflik dan persatuan dapat diliahat sebagai bentuk lain dari sosialisasi; yang satu tidak lebih penting atau lebih mutlak dari yang lainnya, mengasumsikan bahwa ketegangan dan konflik adalah sesuatu “abnormal” atau bahwa keduanya merupakan persatuan kelompok, merupakan perspektif yang penuh bisa yang tidak didukung oleh kenyataan.
Konflik dapat mempunyai banyak bentuk. Simeel menganalisa beberapa diantaranya, termasuk pertandingan antagonistik, konflik hukum, konflik mengenai prinsip-prinsipdasar atau pelbagai hal objektif yang mengatasi individu yang terlibat, konflik antarpribadi yang memiliki mutu-mutu tertentu secara bersama, konflik dalam hubungan yang intim, konflik yang mengancam untuk mengacaukan suatu kelompok.
Konflik antara orang yang dalam banyak hal memiliki persamaan, secara dinamis terjalin dengan dasar kesatuan mereka. Kalau hubungan intim mungkin cukup kuat untuk memungkinkan percekcokan atau malah untuk hidup bersama, maka tidak mengherankan bahwa intensitas konflik sering berbanding langsung dengan tingkat solidaritas atau persamaan dalam hubungan itu.
Konflik merupakan gejala yang alamiah dan tidak dapat dielakkan dalam kehidupan sosial, namun ia berkepanjangan, sekurang-kurangnya dalam bentuk lahirnya. Sebaliknya, kehidupan sosial pada banyak tingkatan yang berbeda-beda memperlihatkan siklus perdamaian dan konflik, persahabatan dan permusuhan.
Kemenangan satu pihak tidak selalu berarti kalah sama sekali kehilangan kekuasaan untuk terus berjuang. Pihak yang kalah mungkin dengan bebas memilih untuk menyerah setelah mereka merasa bahwa hasilnya tidak bisa lain lagi.

B. PEMBAHASAN
Dari beberapa penjelasan tentang teori konflik sosial yaitu konflik diadik (konflik mikro), konflik makro, konflik dan kekompakan (George Simmel), maka penelitian ini menggunakan teori konflik diadik dan bentuk konflik alternatif dan akibat sosialnya. Konflik ini cenderung pada konflik yang timbul antar individu dan antar kelompok. Dalam novel ini, konflik sosial yang timbul karena konflik yang terjadi antar individu secara pribadi yang dilatarbelakangi oleh norma-norma sosial dan didalamnya terkait berbagai permasalahan yang ada di lingkungan sosial khususnya strata atau kelas sosial keluarga dan masalah ekonomi.
Unsur intrinsik yang berperan dalam novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar yaitu tokoh dan alur. Tokoh Tamin merupakan tokoh utama karena frekuensi kemunculan dalam novel lebih besar dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya. Hal ini sesuai dengan penentuan tokoh yang termasuk dalam unsur interistik sebuah cerita prosa fiksi atau novel (Najid, 2003: 23).
Alur cerita dalam novel “ Pulang “ karya Toha Mokhtar pada bagian tengah menyajikan konflik sosial tokoh Tamin karena tokoh tersebut berinteraksi dengan beberapa tokoh atau terjadi pertentangan antar individu (Najid, 2003: 23). Sedangkan teori yang dipakai dalam menganalisis konflik sosial Tamin sebagai seorang yang mengembara sebagai Heiho yang kewajibannya hanya berkelahi dan menembak, mengembara di tengah hutan belantara merupakan konflik diadik yang menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi, masalah yang menyangkut efeksi atau perasaan dan fungsi-fungsi kerohanian, masalah kehormatan dan menjaga eksistensi dirinya sebagai seorang Heiho dan juga seorang anak.
Konflik Tamin muncul ketika ia berinteraksi dengan beberapa tokoh yaitu Sumi, ayah dan Ibunya. Fenomena yang terjadi di masyarakat menunjukkan masalah rumah tangga yang dapat memunculkan konflik dikarenakan masalah yang sensitif berkaitan dengan masalah yang menyangkut efeksi atau perasaan dan fungsi-fungsi kerohanian dan masalah ekonomi.
Konflik sosial yang muncul dapat dikarenakan masalah kepulangan seorang anak yang mengembara sebagai Heiho sering menjadi masalah utama dalam kehidupan rumah tangga yang berkaitan dengan masalah yang menyangkut efeksi atau perasaan dan fungsi-fungsi kerohanian. Simaklah kutipan berikut ini:
“Akhirnya engkau kembali jua, Tamin. Tuhan mengabulkan doaku siang dan malam. Tak ada yang lebih besar kuharapkan dalam hidup ini, kecuali kedatanganmu. Apa gerangan yang aku mimpikan semalaman?” ( Toha,Mokhtar. 1975:9)
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai rencana masing-masing bagi manusia. Seperti halnya Orang tua Tamin, mereka selama 7 tahun mengharapkan anaknya untuk kembali pulang, dan akhirnya dalam waktu 7 tahun tersebut, tuhan mengijinkan mereka untuk bertemu, dan mengingat manusia hanya bisa berusaha, berharap, dan berdoa.
Hal ini menunjukkan konflik sosial Tamin yang menyangkut efeksi atau perasaan, sebagai seorang laki-laki yang telah merantau selama 7 tahun menjadi Heiho akhirnya pulang juga, tapi bisanya masyarakat menganggap bahwa orang yang merantau menjadi Heiho itu akan mati, tapi sebaliknya dengan tokoh Tamin ini, ia bisa pulang untuk berkumpul dengan keluarganya, jadi tidak selamanya orang yang menjadi Heiho itu akan mati, dan juga konflik sosial Tamin ini menyangkut masalah-masalah kerohaniannya yang mempercayakan semua cobaan yang diberikan oleh Tuhan ada hikmanya, dan tidak selamanya pula anak yang meninggalkan rumah, orang tuanya tidak menghapkannya kembali untuk pulang ke rumah. Selain itu, bentuk konflik Tamin yaitu konflik diadik, konflik yang kurang kuat menimbulkan ketegangan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang yang mengalami konflik diadik yang terjadi antar individu jarang menimbulkan ketegangan karena masih bisa dirasionalisasikan (Darmansyah,1986: 247).
Berkat dari Tuhan tidak selamanya berupa sesuatu yang kita inginkan, melainkan hal-hal yang tidak disukai seringkali dijadikan sebuah cobaan yang membawa hikamah yang baik untuk kelanjutan hidupnya.
Simaklah kutipan berikut ini, kutipan berikut ini menunjukkan konflik yang dialami Tamin muncul ketika ia berinteraksi dengan Sumi.
“Itu bohong!” kata Sumi tertawa. “Kau laki-laki, Kang Tamin. Mengapa kau tidak memilih satu dari mereka, membawanya pulang ke mari, biar kampung ini bertambah kaya!” Ia tertawa lagi, lalu disusul tawa itu oleh ayahnya dan ibunya.” ( Toha, Mokhtar. 1975:12)
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa konflik yang terjadi antara Tamin dengan adiknya (Sumi), dikarenakan Sumi menginkan kakaknya yang merantau selama 7 tahun itu pulang membawa seorang wanita, agar kampungnya menjadi kaya, tetapi ternyata kakaknya pulang tanpa membawa seorang wanita pun.
Hal ini menunjukkan konflik sosial Tamin yang menyangkut efeksi atau perasaan, sebagai seorang laki-laki yang telah merantau selama 7 tahun menjadi Heiho akhirnya pulang juga, tapi bisanya masyarakat menganggap bahwa orang yang merantau menjadi Heiho itu akan mati, tapi sebaliknya dengan tokoh Tamin ini, ia bisa pulang untuk berkumpul dengan keluarganya, jadi tidak selamanya orang yang menjadi Heiho itu akan mati, dan juga menyangkut masalah-masalah kerohaniannya yang mempercayakan semua cobaan yang diberikan oleh Tuhan ada hikmanya. Selain itu, bentuk konflik Tamin yaitu konflik diadik, konflik yang kurang kuat menimbulkan ketegangan, karena Tamin menelaah pikiran adinya (Sumi) dengan pikiran logis yang menganggap bahwa tidak membawa seorang wanita pulang ke rumah adalah anugrah Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang yang mengalami konflik diadik yang terjadi antar individu jarang menimbulkan ketegangan karena masih bisa dirasionalisasikan (Darmansyah,1986: 247).
Simaklah kutipan berikut ini, kutipan berikut ini menunjukkan konflik yang dialami Tamin muncul ketika ia berinteraksi dengan Sumi.
“Sumi menaruh pinggan dan gelas itu diatas kayu di pojok kandang dan tanpa mengawasi kakanya lagi ia berkata: “Jika tak salah, telah empat lebaran sampai kini, kang Tamin! Mengapa?” ( Mokhtar, Toha. 1975:16)
“Siang ini hendak kuberi atap dan besok akan datang seekor penghuni.” Sumi mengangkat muka dan menatap kakaknya dengan mata bulat. “Kau maksudkan kita hendak punya sapi lagi?” ( Mokhtar, Toha. 1975:16)
“Sumi masih menatap kakaknya dengan pandang heran dan tak percaya.” Kau harus mempunyai uang banyak, ….. banyak sekali, Kang Tamin!”Tamin tertawa. “Dalam ranselku ada uang, Sumi. Kuharap itu akan cukup untuk membeli seekor sapi muda yang kuat seperti aku!” ia tertawa lagi, melangkah mendekati adiknya, duduk di atas kayu menghadap singkong. ( Mokhtar, Toha. 1975:16)
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa konflik yang terjadi antara Tamin dengan adiknya (Sumi), dikarenakan Sumi menginkan kakaknya untuk membeli sapi agar mereka bisa mengerjakan sawahnya lagi supaya kebutuhan sehari-hari mereka terpenuhi. Hal ini menunjukkan konflik sosial Tamin yang menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi, sebagai seorang anak laki-laki Tamin menjadi tulang punggung keluarganya, maka ia wajib membantu orang tuanya, dalam hal ini Tamin ingin membahagiakan mereka dengan cara membeli sapi agar bisa mengerjakan kembali sawahnya. Kebutuhan ekonomi mereka belum tercukupi jalan satunya adalah mengerjakan sawahnya kembali supaya kebutuhan sehari-hari mereka terpenuhi, sebagai anak laki-laki Tamin menjadi tulang punggung keluarganya, untuk itu kepulangan Tamin merupakan anugrah terindah yang diberikan Tuhan kepada mereka. Selama empat lebaran atau kurang lebih 4 tahun keluaga Tamin tidak memiliki sapi. Tetapi alangkah terkejutnya Tamin ketika orang tuanya bilang alau mereka sudah tidak punya tanah lagi, dan konflik sosial Tamin juga menyangkut masalah-masalah kerohaniannya yang mempercayakan semua cobaan yang diberikan oleh Tuhan ada hikmanya. Selain itu, bentuk konflik Tamin yaitu konflik diadik, konflik yang kurang kuat menimbulkan ketegangan, karena Tamin menelaah pikiran adinya (Sumi) dengan pikiran logis yang menganggap bahwa tidak membawa seorang wanita pulang ke rumah adalah anugrah Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang yang mengalami konflik diadik yang terjadi antar individu jarang menimbulkan ketegangan karena masih bisa dirasionalisasikan (Darmansyah,1986: 247).
Simaklah kutipan berikut ini, kutipan berikut ini menunjukkan konflik yang dialami Tamin muncul ketika ia berinteraksi dengan Ibunya.
“Betapa baiknya sapi untuk kita sekarang? Inilah yang hendak kukatakan kepadamu, nak. Ketika engkau tak ada, rumah ini mengalami kesulitan yang tak dapat dipikul dan jawaban untuk itu cuma satu: tanah.” ( Mokhtar, Toha. 1975:18)
“Tanah. Tak ada yang lebih berharga daripada itu. Semenjak kecil ketika pertama ia menginjakkan kakinya atas pematang, ia telah belajar untuk mencintainya. Sebagai kanak-kanak ia telah mencurahkan semua keringatnya sepanjang petak, mencangkul bersama ayahnya ketika masih kuat. Pada musim membuka air, ia telah ada di sana sebelum matahari terbit, dan setiap petang ia menyasikkan turunnya matahari di balik gunung Wilis di tengah sawah juga.” ( Mokhtar, Toha. 1975:18)
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa konflik yang terjadi antara Tamin dengan ibunya, dikarenakan ibunya menginkan Tamin untuk membeli tanah bukan sapi karena tanah lebih berharga daripada sapi, dimana seluruh keluarganya telah mencintai tanah kelahiran mereka, maka Tamin tidak perlu membeli sapi, tapi uang yang dimiliki Tamin supaya digunakan untuk menebus rumah yang digadaikan orang tuanya. Hal ini menunjukkan konflik sosial Tamin yang menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi, sebagai seorang anak laki-laki Tamin menjadi tulang punggung keluarganya, maka ia wajib membantu orang tuanya, dalam hal ini Tamin ingin membahagiakan mereka dengan cara membeli sapi agar bisa mengerjakan kembali sawahnya, tetapi ternyata orang tuanya tidak setuju mereka menginginkan Tamin untuk menebus Tanah yang mereka gadaikan. Kebutuhan ekonomi mereka belum tercukupi jalan satunya adalah mengerjakan sawahnya kembali supaya kebutuhan sehari-hari mereka terpenuhi, sebagai anak laki-laki Tamin menjadi tulang punggung keluarganya, untuk itu kepulangan Tamin merupakan anugrah terindah yang diberikan Tuhan kepada mereka. Selama empat lebaran atau kurang lebih 4 tahun keluaga Tamin tidak memiliki sapi. Tetapi alangkah terkejutnya Tamin ketika orang tuanya bilang alau mereka sudah tidak punya tanah lagi, dan konflik sosial Tamin juga menyangkut masalah-masalah kerohaniannya yang mempercayakan semua cobaan yang diberikan oleh Tuhan ada hikmanya. Selain itu, bentuk konflik Tamin yaitu konflik diadik, konflik yang kurang kuat menimbulkan ketegangan, karena Tamin menelaah pikiran adinya (Sumi) dengan pikiran logis yang menganggap bahwa tidak membawa seorang wanita pulang ke rumah adalah anugrah Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang yang mengalami konflik diadik yang terjadi antar individu jarang menimbulkan ketegangan karena masih bisa dirasionalisasikan (Darmansyah,1986: 247).

C. SIMPULAN
Pemunculan konflik dalam karya sastra khususnya prosa fiksi menghasilkan sesuatu yang menarik untuk dinikmati dan membawa cerita lebih hidup. Konflik terjadi karena adanya ketidakseimbangan atau anggapan kearah itu, timbulnya konflik dibagi menjadi dua yaitu konflik yang berwujud kekerasan dan tak berwujud kekerasan seperti peperangan. Karena pada hakekatnya manusia dalam menjalani hidup pasti mengalami konflik diri sendiri atau konflik sosial antar masyarakat lain.
Konflik berpengaruh efektif terhadap seluruh tingkat realitas sosial. Hubungan antara konflik dalam perubahan cenderung menjadi satu proses yang berlangsung dengan sendirinya dan terus menerus, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa konflik dapat menimbulkan perubahan, tetapi sebaliknya dari perubahan dapat pula mendatangkan konflik baru yang dapat mengakibatkan terjadinya konflik selanjutnya.
Konflik dapat terjadi dimana-mana, baik antara dua orang, dua kelompok atau antara bangsa-bangsa atau lebih. Konflik tersebut terjadi akibat perbedaan kepentingan dalam berbagai hal. Namun yang perlu diperhatikan bahwa konflik itu sendiri memiliki kadar intensitas atau kedalaman yang menunjukkan kemampuannya untuk menimbulkan ketegangan bagi individu atau kelompok. Konflik sosial merupakan wilayah makro yang artinya mencakup konflik antar negara atau terkait dengan nasional atau internasional, sedangkan konflik sosial antara individu dengan kelompok merupakan wilayah mikro.

D. DAFTAR PUSTAKA
Damono, Sapardi Djoko. 1979. Sosiologi Sastra: sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia.
Darmansyah, M, (dkk). 1986. Ilmu Sosial Dasar (Kumpulan Essei). Surabaya: Usaha Nasional.
Istiana, Diyas. 2003. Potret Masyarakat Jawa dalam Novel Mangir Karya Pramoedya Ananta Toer. Skipsi tidak diterbitkan. Surabaya: FBS Unesa.
Johnson, Doyu Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern di Indonesiakan oleh Robert M.2. Lawang. Jilid I. Jakarta: PT. Gramedia.
Luxemburg, Jan Van (dkk). 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT.Gramedia.
Mokhtar, Toha. 1975. Novel “ Pulang”. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.
Najid, Moh. 2003. Mengenal Apresiasi Prosa Fiksi. Surabaya: Kreasi Media Promo.
Wahyu, Drs, Ms. 2005. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: PT. Hecca Mitra Utama.
Wellek Rene dan Warren, Austin. 1990. Teori Kesusastraan di Indonesiakan oleh Melani Budianta. Jakarta: PT. Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar